Buku Catatan
☁️ 24°C - sedikit berawan


Berbeda dengan MMORPG Dreadmyst yang pernah saya mainkan di [[13.01.26.11]]. Kalau Dreadmyst itu terasa simpel dan vibes-nya kebawa ke era awal 90-an, sedangkan game yang satu ini—jujur aja—terasa lebih keren. Nuansanya mirip MMORPG klasik awal 2000-an.
Keduanya sama-sama buatan developer indie, tapi sepertinya APOGEA bukan open source karena saya tidak menemukan source code-nya di internet. Beda dengan Dreadmyst, yang kodenya bisa saya temukan dan dibangun pakai engine buatan sendiri dengan bahasa C.
Secara gameplay, APOGEA cukup bikin nostalgia. Grafisnya mengingatkan saya pada TIBIA, sementara sistem quest dan ceritanya terasa seperti Old School RuneScape. Kita benar-benar harus baca quest, bukan cuma klik lalu jalan. Bahkan di sistem quest-nya, kita harus chat manual ke NPC. Terkadang di pilihan dialog memang tidak ada opsi quest, jadi kita harus mengetik sendiri dan NPC-nya akan merespons berdasarkan keyword yang kita tulis. Ini bikin dunianya terasa lebih hidup dan tidak kosong, dan player jadi lebih “masuk” ke dalam gamenya.
Kalau dibandingkan MMORPG modern, rasanya cukup beda. Walaupun sekarang banyak yang pakai cutscene keren, ceritanya sering terasa hampa dan kurang menarik buat diikuti. Akhirnya kebanyakan player cuma skip cerita dan fokus ke grinding. Nggak salah sih, cuma ya… rasanya kurang greget aja.
Oh iya, hal menarik lainnya, APOGEA punya fitur yang lebih banyak dibandingkan Dreadmyst. Dan yang paling saya suka dari dua game ini: sama-sama tidak P2W. Hehehe 😅
Gunakan tombol panah keyboard ← → untuk berpindah halaman, atau tekan R untuk catatan acak.